Ahmad Ishomuddin, Syuriyah PBNU, Al-Multazam, PWNU Jabar, Jawa Barat
K Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU.

K Ahmad Ishomuddin
Rais Syuriyah PBNU

Ada banyak tempat yang mustajabah (doa dikabulkan) saat menunaikan ibadah haji. Diantaranya berdoa di belakang Maqam Ibrahim, di bukit al-Shafa dan al-Marwa, di Arafah pada saat wukuf di sana, serta berdoa di al-Multazam. Sedikit akan diuraikan tentang yang saya sebut terakhir, yakni al-Multazam.

Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata bahwa apa yang ada di antara al-Hajar al-Aswad dan Bab (pintu) al-Ka’bah disebut al-Multazam, tidak seorang berdoa kepada Allah di tempat ini kecuali dikabulkan oleh-Nya.

Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallama juga pernah berdoa di al-Multazam, beliau menempelkan dada, wajah, kedua hastanya dan menempelkan kedua telapak tangannya di al-Multazam, sebagaimana diceritakan dan dicontoh oleh Abdullah bin ‘Umar.

Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihi al-salam, bapak umat manusia ketika ingin tawaf di Baitullah ia bertawaf tujuh putaran, lalu beliau shalat dua raka’at menghadap pintu Ka’bah, lalu ke al-Multazam berdo’a:

اللهم إنك تعلم سريرتي وعلانيتي فاقبل معذرتي وتعلم ما في نفسي وما عندي فاغفرلي ذنوبي وتعلم حاجتي فاعطني سؤلي اللهم إني أسألك إيمانا يباشر قلبي ويقينا صادقا حتى أعلم أنه لن يصيبني إلا ما كتبت لي والرضا بما قضيت علي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui rahasiaku dan apa yang ku tampakkan, maka terimalah alasanku. Engkau mengetahui apa yang ada dalam jiwaku dan apa yang ada padaku, maka ampunilah aku. Engkau mengetahui hajatku, maka berikan kepadaku apa yang aku minta. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keimanan yang melekat di hatiku dan keyakinan yang benar, sehingga aku mengetahui bahwa tiada yang menimpaku kecuali apa yang sudah Engkau pastikan untukku dan ridla dengan apa saja yang sudah Engkau tetapkan atas diriku.”

Diriwayatkan, bahwa setelah Nabi Adam berdoa dengan doa di atas maka Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Adam, sungguh engkau memintaku dengan beberapa permintaan dan aku mengabulkan untukmu. Tidak seorangpun anak keturunanmu berdoa (meminta) dengannya kecuali Aku lenyapkan kesedihan dan kepedihan hatinya, Aku tanggung kehilangannya, Aku cabut kefakiran dari hatinya, dan kujadikan kekayaan berada di depan kedua matanya……” dan seterusnya.

Namun, karena di kalangan umat Islam al-Multazam itu sudah sangat terkenal maka tidak mengherankan jika setiap momentum ibadah umrah maupun haji, tempat ini tidak pernah sepi dari mereka yang ingin berdoa. Mereka rela berdesak-desakan sebagaimana rasa ingin yang menggebu untuk mencium al-Hajar al-Aswad. Sangat disayangkan, kadangkala untuk sekedar meraih yang berhukum sunnah itu sebagian mereka tanpa merasa berdosa ikut serta berdesakan sehingga sengaja atau tidak turut menyakiti atau tersakiti. Kita tidak dibenarkan mengerjakan sesuatu yang hanya berupa anjuran dengan cara meninggalkan yang wajib atau dengan cara mengerjakan yang haram.

Komentari