Poster Harlah GP Ansor ke-84.
Poster Harlah GP Ansor ke-84. Oleh Santri Design

Imron Rosyadi Hamid, Satkornas Banser, Rois Syuriah PCINU Tiongkok

Banyak yang tidak sadar bahwa kebesaran Gerakan Pemuda Ansor saat ini sebetulnya tidak bisa dilepaskan dengan perjuangan Chusaini Tiway, sosok yang mungkin tidak terlalu familiar di kalangan sahabat-sahabat Gerakan Pemuda Ansor karena memang beliau bukan pendiri Gerakan Pemuda Ansor bukan pula kader Ansor yang pernah menduduki jabatan penting di negeri ini.

Chusaini Tiway adalah teman KH. Wahid Hasyim yang pertama kali melemparkan ide reuni Pemuda Ansor beberapa minggu sebelum berdirinya RIS (Republik Indonesia Serikat) atau sebelum terjadinya pengakuan kedaulatan RI dari Belanda 27 Desember 1949. Chusaini Tiway yang kala itu baru saja kembali dari medan pertempuran melawan Agresi Militer II Belanda di Kawasan Jombang, Mojokerto dan Tuban, dan tentu saja waktu itu belum ada teknologi informasi seperti sekarang, mengirimkan undangan reuni Ansor melalui ‘getok tular’ alias dari mulut ke mulut. dan hasilnya pada tanggal 14 Desember 1949 bertempat di Kantor PB ANO Bubutan Surabaya, Reuni tersebut berhasil dilaksanakan dan dihadiri oleh KH. Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) dengan suasana yang begitu semarak.

Makam Chusaini Tiway.
Makam Chusaini Tiway. Dok. Ansor Siber

KH Wahid Hasyim mengemukakan dua hal penting, pertama, Ansor harus jadi benteng perjuangan ulama, dan kedua, Kader Ansor harus mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.

Reuni ini penting dan menjadi milestone dalam kontinum sejarah pergerakan kepemudaan NU ini, karena pada dasarnya, Ansor telah lama ‘mati’ akibat kebijakan Gunseikanbu (pemerintah militer pendudukan Jepang) yang melarang dan membubarkan seluruh organisasi pergerakan di tanah air, termasuk GP. Ansor yang didirikan oleh Thohir Bakri dan Abdullah Ubayd Tahun 1934.

Keteladanan lain dari Chusaini Tiway yang mungkin bisa menjadi pengingat kader-kader Ansor zaman now adalah : Beliau tidak tertarik dan tidak ingin memperoleh akses politik, ekonomi dan status sosial lainnya dalam menghidupkan gerakan Pemuda Ansor.

(Disarikan dari Tulisan Choirul Anam, Melihat Masa Lalu, Menatap Masa Depan,1985)

Komentari