PP Pagar Nusa, Cirebon, Ijazah Kubro, PWNU Jabar, Jawa Barat
10.000 pendekar Pagar Nusa dan jamaah nahdliyin menghadiri Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pengurus Pusat Pagar Nusa di Cirebon. Foto: NU Online

Tak kurang dari sepuluh ribu pendekar dan jamaah Nahdliyin berkumpul di Lapangan Puser Bumi, Ciperna Cirebon, Jawa Barat, untuk menerima Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Ahad (28.1).

Kegiatan dihadiri oleh Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, KH Said Asrori (Rais Syuriah PBNU), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Badan Intelejen Mabes Polri Komjen Pol Lutfi, Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah, KH. Ayip Abbas, serta beberapa kiai sepuh.

Tiga Keunggulan

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin memaparkan sejumlah apresiasinya kepada Pagar Nusa. Pertama, Pagar Nusa itu badan otonom NU yang dinilai disiplin. Kedua, sikap yang dijunjung Pagar Nusa adalahmembela kiai sampai mati.

KH Ma'ruf Amin, Pagar Nusa, Ijazah Kubro, PWNU Jabar, Jawa Barat
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin saat memberikan tausiyah kepada para pendekar Pagar Nusa. Foto: NU Online.

Kiai kelahiran Tanggerang, Banten ini memaparkan sikap bahwa Pagar Nusa yang membela para kiai ini sudah sesuai dengan hadist Nabi, yaitu ulama adalah pewaris para nabi. Kiai Ma’ruf menceritakan kisah saat Abu Bakar menangis karena tidak rela bila Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad kemudian meminta kepada Abu Bakar supaya tidak bersedih karena Allah bersama kita.

Ketiga, Pagar Nusa bersemboyan NKRI itu final. Menurutnya, NKRI adalah negara yang dibentuk berdasarkan kesepakatan seluruh elemen bangsa termasuk para ulama.

Pagarnya NU dan Bangsa

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Pagar Nusa itu menjadi benteng NU dan NKRI.

“Pagar Nusa ini sejatinya, pagarnya NU dan bangsa. Ini penting sebagai bagian dari pengabdian dan niat khidmatnya para pengurus dan pendekar Pagar Nusa,” ungkap Kiai Said.

Kiai Said juga menyampakan agar para pendekar Pagar Nusa menjaga amanah addiniyyah dan amanah al-wathaniyyah. Amanah addiyyah maksudnya para pendekar harus siap membela agama Islam. Karena Islam sebagai agama yang mulia, maka para pendekar harus membela agama dengan cara yang mulia, bukan dengan cara yang keras dan arogan. Amanah al-Wathaniyyah maksudnya, pendekar harus siap membela bangsa dan negara karena bangsa dan negara tempat kita dilahirkan dan tempat kita hidup, maka harus dijaga sampai mati.

“Siapapun yang hidup di Indonesia, asalkan sama-sama mau berjuang untuk membela negara, maka kita harus jaga,” tegas Kiai Said.


Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen mengungkapkan, Pagar Nusa tunduk dan patuh pada kiai, serta menegaskan pengabdian sepenuhnya pada kiai.

“Saat ini, para pendekar Pagar Nusa sangat bersemangat. Pendekar-pendekar dari Papua, NTB, Lampung, Sulawesi, dan mayoritas cabang dan wilayah di Jawa, datang ke Cirebon. Semuanya datang atas niat sendiri, niat ingin mengabdi kepada kiai dan negeri ini,” ungkap Nabil.

KH Hasan Nuri Hidayatullah, Pagar Nusa, Cirebon, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah saat memberikan sambutan pada perhelatan Pagar Nusa di Cirebon. Foto: dok. Pribadi.

Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah berterima kasih karena Cirebon diberi kepercayaan menjadi tuan rumah hajat Pagar Nusa kali ini. Menurutnya, sungguh luar biasa, 10.000 pendekar dari seluruh Nusantara bisa berkumpul. Tradisi ijazah, jelas Gus Hasan, adalah tradisi NU. Selain bertujuan menyambungkan hubungan antara guru dengan murid secara lebih kuat, juga merupakan penegasan atas sanad keilmuan.

Selamat kepada Pengurus Pusat Pagar Nusa yang dinahkodai oleh Gus Nabil Harun, semoga mampu menjadi bagian dari pagar yang kokoh menjaga Nusantara dalam bingkai NKRI,” pungkas Pengasuh Pesantren Ash-Shiddiqiyah Karawang itu.

(Muhammad Salim/Alhafiz K, Husni Sahal/Kendi Setiawan/NU Online)

Komentari